Kemajuan teknologi memberikan begitu banyak manfaat bagi manusia. Mulai dari memeprsingkat waktu, jarak, serta biaya. Hidup jadi begitu ringan untuk dijalani.

Akan tetapi, kemajuan demi kemajuan itu, meninggalkan lubang kelam dari aspek kehidupan manusia. Lubang kelam itu berupa meranggasnya aneka kebiasaan-kebiasaan positif yang bersifat kekeluargaan. Berkat kemajuan teknologi, manusia menjadi lebih individualis, suatu cara hidup yang ahistoris bagi bangsa ini.

Saya teringat, 10 tahun silam, sewaktu menginjakkan kaki di Jogja untuk berkuliah, tidak semua anak kost memiliki alat komunikasi yang bernama ponsel. Untuk berkomunikasi dengan orangtua di kampung halaman, kami masih mengandalkan interlokal.

Kebetulan di kost saya itu, ada fasilitas telepon yang disiapkan pemilik kost. Pesawat telepon itu hanya bisa digunakan untuk menerima telepon semata. Saat telepon bordering, salah satu anak kost berinisiatif untuk menerima panggilan tersebut.

“Halo bisa bicara dengan [sambil menyebut nama salah satu anak kost],” kata suara di seberang sana yang ternyata orangtua dari teman saya.

Setelah itu, saya segera mendatangi kamar teman yang dimaksud kemudian mengabarkan dia sedang ditunggu di jalur telepon. Secepat kilat, panggilan itu dijawab teman saya tersebut, maklum rasa kangen keluarga sedang masygul.

Kebiasaan seperti itu, dengan sendirinya memproduksi kebersamaan, kesetiakawanan antaranak kost. Kami menjadi begitu guyub, akrab dan kompak, serta saling pedulu satu sama lain.

Akan tetapi, kebiasaan seperti itu menjadi barang langka saat ini. Semua itu terjadi setelah ponsel menjadi begitu terjangkau, sehingga telepon rumah tersingkir dengan sendirinya.

Ponsel juga menghancurkan tradisi tulis-menulis surat. Padahal kebiasaan itu sangat bermanfaat untuk mengasah teknik menulis, serta berpikiri runtut dan terperinci.

Dunia memang sudah berubah. Tapi perubahan itu melahirkan kekeringan kreativitas, dan kebersamaan. Yang tertinggal hanyalah egoism semata.

Advertisements