Perjalanan Menuju Pekalongan (1)

Akhir pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kota Santri, Pekalongan di Jawa Tengah. Sekitar 10 tahun silam, saya pernah berkunjung ke sana, dengan rute perjalanan yang sama pula, dari Jogja.

Meski demikian, saya sama sekali tidak mengingat rute perjalanannya 10 tahun silam. Yang tersisa dalam ingatan adalah ketika itu jalan agak menanjak dan berliku. Di sisi kiri jalan berjejer pengemis berpakaian hitam dan menggunakan topi caping. Mungkin di daerah Temanggung saya kira.

Nah keberangkatan kali ini cukup mengecewakan pada awalnya. Travel telat dua jam dari jadwal jam 14.00 WIB. Tapi, ada banyak cerita yang diperoleh dalam perjalanan itu.

Kebetulan, saat menumpang travel itu, saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu, usianya sekitar 40-an. Secara pandangan mainstream, wanita yang menginginkan diirnya dipanggil Mami itu sangat aman tidak seksi sekali. Tubuhnya tinggi besar, perut penuh tumpukan lemak, mengenakan sendal bertumit tinggi, memakai celana ketat dengan motif bunga-bunga, serta baju yang lebar.

Hal itu berkebalikan dengan putrinya, yang mengaku bernama Amel, seorang mahasiswi jurusan teknik batik di salah satu perguruan tinggi di Pekalongan. Namanya juga anak muda, penampilannya cukup modis dengan baju hem abu-abu, celana jeans ketat, serta sepatuh berhak tinggi.

Wajahnya oval dengan dagu tirus, dan berkulit kuning langsat dibalut sepasang softlens yang membuatnya terlihat menarik. Sepertinya dia terlihat sering meluangkan waktu di salon kecantikan. Rambutnya lurus menjuntai, tapi di bagian ujung sengaja dibikin bergelombang seperti macaroni.

Begitu mengetahui saya bekerja pada sebuah perusahaan yang juga berhubungan dengan dunia periklanan, dia langsung mempromosikan Amel yang sejak SMA di Semarang sudah menjadi fotomodel.

“Kalau membutuhkan fotomodel, bisa hubungi nomor telepon saya atau nomor Amel ya. Cantik kan? Sekarang lebih cantik lagi ,” kata dia sembari memberikan selembar foto sang putri tengah bergaya di depan kamera.

Sepanjang perjalanan, kami tidak terlalu banyak bicara. Si Mami sibuk bermain-main dengan ponsel buatan China miliknya. Terlihat, dia sedang mabuk kepayang karena sering membuka kotak pesan di ponsel, lalu membaca sms dari seseorang yang bernama Soleh. Satu pesan dibaca berkali-kali dengan ekspresi yang serius dan terlihat tegang.

Naluri usil saya muncul sehingga sempat mengintip beberapa sms. Si Mami mengaku capek menunggu travel yang tidak kunjung datang sementara Soleh mengatakan bakal menyembuhkan perasaan lelah itu. Ada sedikit kalimat yang disertakan dalam sms itu.

Mungkin mereka belum lama menjalin hubungan cinta. Pasalnya, suatu ketika si Mami mengetik sms yang mempertanyakan kenapa Soleh yang disebut Papi itu mau dengan dia, padahal wanita itu berusia tiga tahun lebih tua dan memiliki anak seusia Amel.

Upaya wanita mempertanyakan mengapa pria memilih dia sebagai kekasih hati, bukan baru kali ini saja saya temui. Sebelumnya, ada banyak kejadian yang saya temui, termasuk pengalaman pribadi tentunya.

Wanita, melontarkan pertanyaan itu, sesungguhnya bukan untuk bertanya, tapi hal itu menunjukkan mereka bahwasannya mereka tengah dimabuk asmara. Jadi, pertanyaan itu tidak menunjut jawaban yang logis, karena lebih mengarah ke area perasaan yang tentu saja subjektif dan terkadang sulit dinalar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s