Perjalanan Menuju Pekalongan (2)

Kembali lagi ke si Mami tadi, singkat cerita saya tidak ingin terlalu dalam mengintip dengan teknik berpura-pura tidur, unutk mengetahui isi sms-nya karena hal itu melangkahi privasi yang harus dihargai. Yang tersisa hanya perasaan santai, menikmati iringan musik klasik rock sound system travel.

Hujan kemudian turun begitu deras, sejak kami sampai di Muntilan, dan terus mengguyur hingga daerah Temanggung. Travel tersebut melaju, mengelilingi perbukitan dan berhenti di wilayah Ngadirejo, masih wilayah Temanggung, untuk beristirahat dan makan malam.

Sungguh disayangkan, hari sudah gelap sehingga saya melewatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan tadi. Saya memilih menu bakso malam itu, mengingat udara yang sejuk serta perjalanan jauh yang bakal ditempuh sehingga kemungkinan masuk angin bisa saja terjadi. Bakso dengan kuah hangatnya tentu manjur mengeluarkan angin jahat semacam itu.

Selepas itu, Travel kembali melaju. Kali ini formasi duduk kami berubah. Amel yang awalnya duduk paling ujung, dekat pintu, berganti posisi dengan mami. Ada kejadian lucu sebelum travel kembali bergerak. Secara tidak sengaja, si Amel menginjak kaki Mami menggunakan sepatu hak tingginya itu.

Spontan, Mami menjerit kesakitan dan menepuk punggung anak semata wayangnya itu. Sementara saya yang duduk di sebelah mereka cuma bisa menahan tawa menyaksikan adegan itu.

Dalam perjalanan itu, iseng saya kembali mengintip aktivitas Amel memainkan gadget-nya tablet produksi China dengan dual sim card. Namanya juga gadis yang terlihat cantik, sepertinya banyak pria yang mendekati dirinya dan sepertinya hampir semua disambut dengan hangat. Apakah ini tanda Amel bukan tipe cewek cetia? Entahlah.

Ada seseorang yang bernama Andrian, berkali-kali menelepon tapi tidak direspon. Ada pula seseorang yang di tablet Amel, tersimpan dengan nama Abi yang berkali-kali mengirimkan sms dan memanggil Amel dengan sebutan istri.

Ada juga dari seseorang yang tertulis Bos IBC (atau LBC?), sebuah pusat batik di Pekalongan. Pria itu berjanji akan mengirimkan sejumlah uang kepada Amel asalkan bisa datang ke tempatnya. Selebihnya, saya tidak tertarik lagi, karena rasa kantuk yang teramat sangat.

Begitu terjaga, ternyata travel sudah menderu di Jalan Pantura, dan memasuki Kabupaten Batang. Di kota ini, 10 tahun silam, saya pernah meluangkan waktu nongkrong di alun-alun sembari menikmati suasana sore.

Travel terus melaju memasuki Pekalongan. Ingin sekali meliahat alun-alun kota itu, yang berada persis di depan Matahari Dept Store.Kota di mana pejuang Muhammad Roem, sang diplomat serta pemimpin penandatanganan kesepakatan Van Royen-Roem yang mennjadi pintu gerbang Konferensi Meja Bundar di Den Haag 1949.

Tapi bukan itu tujuan saya karena kali ini saya harus beristirahat di kost teman, daerah Wiradesa. Daerah perbatasan dengan Pemalang. Daerah transportasi yang keras dan ganas. Butuh mental baja untuk tinggal d wilayah itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s