Tukang Pangkas Rambut Itu Seniman

Lantaran rambut saya sudah mulai panjang, belum lama ini saya berkesempatan pergi ke tukang pangkas rambut di wilayah Tambakbayan, Babarsari.  Nama tempat pangkas rambut itu adalah Kharisma.

Sejak saya datang ke Jogja, 10 tahun silam, lokasi pangkas rambut itu tidak berubah. Padahal banyak usaha pangkas rambut lainnya di bilangan Babarsari, sudah gulung tikar, karena lokasinya digusur untuk pembangunan ruko dan sebagainya.

Ongkos jasa pangkas rambut di Kharisma masih terhitung murah. Rp6000 sekali potong. Dulu 10 tahun lalu, sekitar Rp3000. Maklum inflasi terus meningkat.

Saat rambut dipangkas, saya memperhatikan sang tukang pangkas. Tangannya begitu terampil memmainkan alat pangkas elektrik, serta gunting. Begitu cekatan sekali. Bagi saya, para tukang pangkas sejatinya merupakan seniman yang bekerja dengan nilai artistik nan mumpuni, dalam waktu singkat dan sesuai kebutuhan konsumen. Mau gaya rambut model apapun bisa ditiru.

Berbicara tentang pangkas rambut, saya teringat akan kebiasaan memangkas rambut di rumah. Bapak saya, gemar memangkas rambut 2 anak lelakinya (saya dan kakak) jika sudah mulai memanjang. Suatu ketika, saat kami masih berusia balita, pernah rambut kami dipangkas hingga gundul seperti tuyul atau mirip Upin-Ipin. Tak pelak lagi, mama marah-marah pada bapak karena almarhumah tidak ingin kami digunduli.

Kebiasaan bapak turun ke kakak saya. Dia mahir memangkas rambut setleah ilmu itu dipelajari sewaktu tinggal di asrama dari SMP-SMA. Satu karyanya yang paling berkesan saat ia memangkas rambut Opa, beberapa pekan sebelum bapak dari mama itu, pergi untuk selama-lamanya.

Masih soal pangkas rambut, saya teringat akan seorang tukang pangkas rambut di Stadion Merdeka, Kupang, NTT. Mungkin dia berasal dari Jawa, saya juga tidak mengingatnya lagi. Dia menjadi langganan pangkas rambut bapak, karena kami anak-anaknya masih terlampau kecil untuk memangkas rambut orangtuanya.

Sekali-dua kali kami juga diantar bapak ke lokasi itu untuk pangkas rambut. Jika kami anak-aanak kecil yang datang untuk pangkas rambut, biasanya kursi pangkas akan ditambahkan sebuah dingklik sehingga posisi duduk kami bisa lebih tinggi dan memudahkan sang tukang pangkas bekerja.

Itulah sekilas kenangan saya akan pangkas rambut. Sebuah profesi yang akan selalu ada karena frame berpikir manusia dewasa ini yang menganggap berambut panjang itu tidak rapi.

One thought on “Tukang Pangkas Rambut Itu Seniman

  1. Kalau mau menangkap burung, sarangnya harus
    dikuasai terlebih dahulu.. Istilah ini pernah saya dengar semasa SMA, ternyata masih dipakai sampai skrg..
    Lanjutkan kawan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s