Sebuah Persimpangan Cinta

Tiba-tiba saya teringat akan seorang teman, namanya sebut saja Devina. Salah satu orangtuanya, ayah atau ibu tepatnya saya lupa, berasal dari Bantul.

Gadis yang usianya sepantaran dengan saya itu bisa dikatakan lumayan cantik. Kulitnya terang, mulus makin mempeona dibalut kemanjaan dan keintelekan. Mungkin sebagian pria akan mengatakan dia perfect.

Di rumah, si Devina ini sulung dari kalau tidak salah lima bersaudara. Dia satu-satunya anak cewek dalam keluarga tersebut. Gadis ini tipe cewek yang tidak betah berdiam diri di rumah karena itulah dia gemar berplesir, jalan-jalan sekedar cuci mata.

Suatu ketika, si Devina ini berkenalan dengan seseorang, sebut saja Windu. Kebetulan dia juga merupakan teman saya.

Walau jarak membentang, mereka kemudian menjalin persahabatan yang cukup erat jika tidak ingin mengatakan dekat. Intensitas komunikasi antara mereka cukup intensif.

Akan tetapi bulan madu itu cuma seumur jagung. Devina menemukan pria lain, sebut saja Arya yang lebih rupawan, dan yang terpenting, berdomisili di kota yang sama sehingga jarak geografis menjadi tidak berarti.

Setelah mengetahui kenyataan itu, Windu pun mafhum. Dia kemudian menarik diri dan menenggelamkan segala perasaan pahit di hati dengan melakukan banyak aktivitas.

Tahun kemudan berganti dengan tahun-tahun yang lain. Windu akhirnya menemukan tambatan hatinya. Info yang saya dapatkan, dia meraa bahagia bersanding dengan kekasihnya itu.

Sementara Devina? Ternyata Arya sudah bukan menjadi miliknya lagi. Pria itu dalam waktu dekat akan segera menikahi pacarnya usai putus dengna Devina. Saya tidak mengetahui persis alasan mereka harus mengakhiri hubungan itu. Bisa jadi karena persoalan agama yang berbeda.

Yang tersisa adalah perasaan sakit di dalam hati Devina. Dia melihat Arya nampak bahagia, tapi Evina meragukan pria itu benar-benar bahagia dan ingin menikah sesegera mungkin.

Devina pun kembali teringat akan Windu ketika pria yang gemar menulis puisi itu memberikan ucapan selamat ulang tahun padanya. Bayang kenangan masa lampau hadir kembali. Saat di mana, untaian kata mengalun begitu mesra.

Devina kemudian meminta Windu memberikan kado spesial di hari jadi tersebut. Sebuah puisi yang indah, seperti dulu.

Permintaan itu dituruti Windu. Dalam hati dia berpikir untuk kembali menekatkan diri dengan Devina. Hanya saja, keinginan itu kemudian segera ditenggelamkan karena ia telah menemukan belahan jiwa. Seorang gadis yang sederhana, bermata teduh dan sanggup merajai hatinya.

Sebuah puisi pun digoreskan Windu. Dalam syair itu, ia tetap mengakui Devina sebaga seorang gadis yang pernah mampir dalam hati dan meninggalkan kesan yang menawan.

Hanya saja,kini semua tak sama lagi. Kerinduan hati pada Devina beralih rupa menjadi doa, yang mengiringi langkah gadis itu, untuk menemui cinta sejatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s