Menanti Revolusi Pancasila

Saat ini adalah detik-detik menegangkan sebelum Bahan Bakar Minyak dinaikan pemerintah. Menurut desas-desus yang saya dengar, besok gedung DPR/MPR di Senayan bakal dikepung ribuan demonstran yang terdiri dari mahasiswa dan gerakan pro demokrasi.

Melihat fenomena ini, saya jadi teringat dulu semasa masih menjadi mahasiswa, kurang lebih sembilan tahun silam. Saat itu, sekitar seribu orang tumpah ruah di titik nol kilometer Malioboro menentang rencana kenaikan BBM yang dikumandangkan SBY.

Saat itu, sang jenderal mengaku nekat mengambil kebijakan yang tidak populis itu demi menyelamatkan anggaran negara. Hal sama yang ia katakana akhir-akhir ini.

Akan tetapi, fakta menunjukkan, dia pulalah yang menurunkan harga bahan bakar beberapa tahun sebelu PEmilu 2005. Saat itu, dia mengatakan upaya tersebut bukan merupakan bentuk pencitraan dan klaim keberpihakan partainya. Akan tetapi dalam kampanye, banyak kader partainya yang berkoar-koar bahwasanya karena merekalah, harga BBM bia turun.

Muncul pertanyaan, siapa yang menaikkan dan siapa yang menurunkan? Jawabannya, rezim SBY. Saya tidak ingin terlalu dalam masuk ke dalam perdebatan soal efek kenaikan harga BBM atau kerugian yang bakal ditanggung jika bahan bakar tersebut tidak segera dinaikan.

Naik atau tidaknya BBM, selama rezim masih dipegang para koprador dan penyembah korupsi, negeri tercinta nan indah ini tetap berjalan di tempat. Bilakah revolusi yang dipandu Pancasila itu pecah di negeri ini?

5 thoughts on “Menanti Revolusi Pancasila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s