Drama di Stasiun Tugu

Ada drama singkat saat saya mengantar pacar saya kembali ke Jakarta, Senin 27 Mei, kemarin. Ceritanya pagi-pagi sekali, sekitar jam 06.00 WIB kami berangkat dari Klaten karena kereta bertolak ke ibukota jam 07.35 WIB.

Sesampai di Stasiun Tugu, sembari menunggu kereta berangkat, saya duduk di ruang tunggu stasiun, sambil melihat lingkungan sekitar. Duduk di sebelah saya, seorang pasangan suami-istri nampaknya. Mereka sedang menunggu kereta menuju Bandung, Jawa Barat.

Sekonyong-konyong muncul seorang pria sepuh, usianya saya taksir sekitar 79 tahun. Dia mengenakan seragam portier stasiun. Pasutri yang duduk di sebelah saya kemudian didekati oleh sang kakek sembari menawarkan jasa menggotong barang bawaan mereka.

Tawaran itu tentu saja ditolak oleh pasutri tersebut karena selain barang mereka tidak banyak, mereka juga mungkin berpikir untuk apa mengeluarkan daan ekstra untuk membayar kuli panggul.

Sang kakek kemudian mencoba berbasa-basi dengan menanyakan pasutri itu hendak pergi ke mana. Selepas itu, dia pun beranjak pergi.

Saya terenyuh. Ada orang yang meski sudah renta, tetap berjuang untuk bertahan hidup meski dengan cara yang teramat sulit. Pemandangan yang saya temui di Stasiun Tugu persis seperti di Pasar Beringharjo. Di sana berjejer para kuli panggul yang sudah sepuh dengan bayaran Rp2000 sekali angkut.

Sampai kapan mereka harus membanting tulang yang sudah keropos itu? Hidup memang pantas diperjuangkan, sampai titik darah penghabisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s