Mengenang 2 Sahabat Lama

Tiba-tiba saya jadi terkenang masa kecil di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ada 2 teman kelas waktu bersekolah di SD Don Bosko 3 yang sangat akrab dengan saya. Mereka adalah Kris Keban dan Nobert Sinuor.

Kami menjadi begitu akrab karena ada beberapa sebab. Pertama, rumah kami terhitung berdekatan. Saya dan Nobert tinggal di kompleks Perumnas Pasir Panjang, dan Kris tinggal di bilangan Jalan Nangka, di tepi Perumnas. Otomatis, kami selalu menumpang angkot dengan jurusan yang sama.

Alasan lain, karena kami bertiga berlatar belakang budaya Lamaholot, suku bangsa yang mendiami Flores Timur dan Lembata. Saya Flores Timur totok. Nober juga totok dari Lembata. Yang peranakan hanya Kris, berayah dari Pulau Solor, Flores Timur dan ibu dari Pulau Rote.

Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan mereka berdua. Selepas SD, saya dan Nobert masih bersekolah di SMP yang sama. Setelah SMA dan dia SMK, kami masih sering bertemu. Saat ini dia sedang berkarya di Kupang, sebagai konsultan konstruksi. Yang hilang kontak adalah si Kris. Entah bagaimana nasibnya sekarang.

Informasi terakhir yang sama dapatkan, sewaktu SMP, Kris berubah menjadi anak yang bengal. Sejak SD dia juga sudah terlihat bandel, lantaran anak lelaki tunggal di dalam keluagra (2 kakaknya cewek semua) yang otomatis sangat dimanja. Lagi pula Kris juga merupakan anak bungsu, jadi cukup kuat alasan dia memang menjadi ‘raja kecil’ di rumah.

Berbicara soal Kris, saya teringat sewaktu kami duduk di kelas 4, dan mengikuti upacara sakramen komuni pertama. Saat itu, ayahnya diizinkan oleh polisi untuk mendampingi Kris di gereja. Selepas misa, kembali lagi ke ruang tahanan. . Apa pasalnya?.

Ceritanya, ayah dari Kris berprofesi sebagai sopir truk yang biasa membawa barang dari Pelabuhan Tenau ke gudang. Suatu ketika, beberapa hari sebelum komuni pertama, secara tidak sengaja, seorang kernet alias asisten dari ayah Kris, terjatuh saat truk sedang melaju kencang. Pria malang itu tewas seketika.

Orangtua Kris otomatis dianggap bertanggung jawab atas kejadian itu karena dia yang mengemudikan truk. Entah seperti apa proses hukumnya, saya sudah lupa. Selama tulang punggung keluarga terjerat hukum, sang ibu banting tulang, berjualan kangkung di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara kalau berbicara soal Nobert, ayahnya seorang PNS bidang perikanan dan tergolong pria yang keras serta tidak segan mendidik anak-anaknya dengan cara yang keras.

Nobert merupakan anak sulung dari 5 atau 6 bersaudara (saya lupa persisnya). Saat SD, tubuhnya mungil, tapi dia lihai dalam menggiring si kulit bundar. Salah satu striker andalah sekolah di mana saya menjadi kaptennya dan berposisi sebagai libero.

Ya itulah 2 teman masa kecil, suatu masa di mana hari-hari kami hanya diliputi kebahagiaan, sebagai anak kecil, yang tiap hari kerjanya hanya bermain. Jujur, saya merindukan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s