Aside

Sahabat Lama dan Jogja Yang Asing

Baru saja, saya bersama 2 sahabat lama, menghabiskan waktu sejenak mengaso di seba warung kopi. Ada Ano, rekan kuliah beda jurusan tapi 1 fakultas, serta teman satu atap, karena pernah se-kost dan Freddy, adik tingkat zaman kuliah dulu.

Mereka berdua masih terikat hubungn darah. Masih sedulur, istilah Jawanya. Kami membincangkan banyak hal, mulai dari “perjudian” bernama fore (foreign exchange), sampai perjudian murni berna Bola Guling (BG) yang ngetren di Pulau Timor.

Freddy, seorang yang cemerlang, kritis, dan berani. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan pilihan katany menohok. Tidak jarang hal itu membuat banyak kuping memerah dibuatnya.

Saking cemerlangnya, sesekali dia menjadi tempat banyak orang berkonsultasi perihal skripsi. Ya, dengan imbalan rupiah tentunya. Hidup butuh biaya bos.

Saat ini, dia asyik mewujudnyaakan idenya tenang dunia, melalui media film pendek. Muai dari coba-coba, makin lama kualitas film yang dibuatnya makin bagus.

Ano, beda lagi. Dia tipe orang lapangan. Ketangkasannya dalam mengerjaka sesuatu, benar-benar mengundang decak kagum. Satu lagi, orangnya mudah bergaul dan menyesuaikan diri, di samping humoris.

Dia dan keluarganya, rela meninggalkan kampung halaman di Timor- Timur, demi merah putih, pasca jajak pendapat 1999 silam. Rumah berukuran luas rela ditinggalkan demi dwi warna.

Setelah menyelesaikn kuliah, dia sempat bekerja di Dili, Ibukota Timor Leste. Akan tetapi, Desember lalu, dia kembali ke Jogja, dan bekerja sebagai makelar mobil dan sepeda motor. Semoga upayanya mencari rezeki selalu diberkahi.

Singkat cerita, kami ngobrol panjang lebar. Saya merasa gembira, karena bisa menghabiskan waktu bersama rekan sebaya karena semua teman seperjuangan dulu, sudah terpencar, mengikuti garis hidupnya masing-masing, berkarya sesuai profesinya.

Kesepian tanpa teman sepantaran, seide itulah yang membuat saya sering kesepian di Jogja yang makin semarak ini. Jogja saat ini, semakin asing, dan tidak senikmat dahulu kala.

Itulah derita orang, yang hidup dalam jalinan waktu dan memanggul memori kenangan mas lalu. Segala perubahan yang pesat, entah itu perubahan fisik dan sosial, terasa aneh dan tidak menentramkan hati karena Jogja seperti menjalani operasi plastik, berubah menjadi metropolis yang individual dan kapitalistik.

Kembali ke soal 2 sahabat saya tadi. Pukul 24.00 WIB, kami memutuskan untuk pulang, karena harus melakukn aktivitas masing-masing di pagi hari. Dalam perjalanan pulang, saya dan Ano terlibat perbincangan.

Saat nongkrong kami melihat begitu banyak mahasiswa-mahasiswi yang turut mengaso di tempat itu. Mereka terlihat menikmati suasana itu. Mengobrol, minum kopi, dan menghisap rokok atau shisa (begitukah ejaannya?)

“Mereka begitu menikmati suasana dengan menghabiskan uang yang dikirim orangtua. Dunianya terasa indah. Tapi selepas kuliah, uang kiriman dsetop, barulah mereka merasakah dunia sebenarnya. Dunia yang sulit dan membutuhkan perjuangan,” kata Ano.

Sayapun mengiyakan apa yang diungkapkan sahabat lama itu. Rasanya rugi sekali jika sering menghabiskan waktu dan uang tentunya, hanya untuk sekedar mengaso. Ya itulah kami, yang tengah berjuang di dunia yang riil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s