Aside

Inilah Alasan Mengapa TNI AD Bentuk Tim Investgasi Kasus Cebongan

Saya masih terganggu dengan istilah Ksatria yang dialamatkan pada oknum kopassus yang menyerbu dan membantai 4 tahanan di LP Cebongan.Baiklah, agar publik tahu, saya akan paparkan kronologis sebenarnya, agar kata ksatria itu bisa dipertimbangkan kembali.

Adakah pembaca sekalian yang mengetahui, kenapa TNI AD kemudian membentuk tim investigas yang dalam waktu singkat bisa membongkar siapa pelakunya? Sehebat apakah tim itu sampai bisa membongkar kedok dalam tempo yang cepat?

Mari kita flashback pada kejadian penyeban di LP Cebongan. Menurut para sipir, pelaku penyerbuan membawa serta 4 buah ponsel milik sipir. Dari sitlah, polisi kemudian menggunakan pelacakan berbasis teknologi informasi dan berhasil mengendus sinyal 4 buah ponsel tersebut yang jelas-jelas mengarah ke Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura.

“Dari data itulah, kami meyakini benar para pelaku berasal dari kalangan militer,” kata salah seorang perwira Polda DIY.

Data tersebut kemudan diserahkan ke Mabes Polri dan diteruskan ke Mabes TNI. Itulah yang menjadi dasar mengapa TNI AD membentuk tim investigasi.

Frasa “Indikasi keterlibatan anggota TNI AD” yang disebutkan KSAD Jenderal Eddy, ipar SBY, sebenarnya merujuk pada bukti tracking sinyal ponsel tersebut.

Dengan data tracking itu pula, para pelaku akhirnya tidak bisa mengelak, sehingga terpaksa mengakui perbuaan mereka.

Jadi, sudah menjadi terang benderang di sini bahwa ungkapakan Ksatria yang disematkan pada para pelaku adalah salah alamat. Mereka mengakui perbuatannya karena sudah tidak bisa mengelak lagi.

Mereka, para pelaku pembantaian tersebut, tidak lebih dari pengecut dan banci, yang mencoba menghilangkan jejak dengan mengambil CCTV LP Cebongan, membakar dan membuang perangkat tersebu ke Sungai Bengaan Solo.

Upaya pengalihan isu penyerbuan menjadi isu premanisme, sejatinya merupakan move dari intelijen (militer) agar tekanan publik atas kasus Cebongan mengendor.

Intelijen (militer)berupaya menggiring kasus penyerban tersebut sebagai pembenaran dalam rangka pembantaian preman. Padahal, sebenarnya premanisme itu tumbuh dan berkembang karena ada bekingandari aparat berseragam, termasuk TNI, serta politikus.

Omong kosong jika TNI “mencitrakan diri sebagai pemberantas preman, karena banyak oknum di dalamnya menjadi semacam pelindung para preman.

Karena itu, ada baiknya semua warga negara Indonesia lebih cermat dan cerdas agar tidak larut dalam upaya pengalihan isu. Semua, termasuk media massa harus fokus pada penyidikan kasus Cebongan, agar terungkap jelas pelaku, serta dalang di baik semua ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s