Setelah Pembantaian LP Cebongan Terungkap

Cahaya kebenaran mulai menyingkap tabir kegelapan tragedi pembantaian 4 tahanan di LP Cebongan Sleman, pekan lalu. Hasil penyelidikan Tim Investigasi TNI AD menyatakan 11 orang anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartosuro, Jawa Tengah sebagai pelakunya.

Mungkin saat ini sang pemilik akun facebook Idjon Djanbi sedang galau, karena upaya mempengaruhi persepsi publik tentang ketidakterkaitan Kopassus dalam penyerbuan itu, gagal total. Siapapun pemilik akun itu, menurut saya dia sama bancinya dengan para pelaku penyerbuan.

Banyak pihak yang justru mengapresiasi para pembantai tersebut dengan mengatakan mereka berjiwa ksatria, mau mengakui perbuatannya. Akan tetapi, tidak bagi saya, mereka sesungguhnya berjiwa pengecut. Apa pasalnya?

Logikanya begini, jika berjiwa ksatria, semestinya mereka, usai membantai, mengakui perbuatannya. Akan tetapi, pengumuman tim investigasi mengatakan para penyerbu berusaha menghilangkan barang bukti dengan membakar kemudian membuang CCTV yang mereka ambil di LP Cebongan, kemudian membuang sebagian perangkat elektronik tersebut ke Sungai Bengawan Solo. Bukankah itu tindakan pengecut, yakni berupaya menghilangkan jejak?

Meskipun yang dibantai di LP tersebut berstatus preman, atau dikatakan sampah masyarakat, tapi tindakan pembantaian tersebut tidak dapat dibenarkan sama sekali. Jika hukum rimba yang berbicara, buat apa Negara ini berdiri? Buang ke laut saja sistem hukum, yang meski penuh korup, tapi tetap harus ditegakkan demi tercapainya ketertiban bersama.

Kembali ke soal para anggota Kopassus yang melakukan penyerangan, perlu ditelusuri, apakah tindakan mereka benar-benar spontan, atau semengetahuan komandan mereka? Lalu, dari mana ide membuat surat berkop Polda DIY yang sempat mereka tunjukkan ke petugas sipir LP saat penyerbuan tersebut? Hal seperti ini perlu ditelusuri lebih jauh lagi.

Saya tetap berpendapat, Kapolda DIY, Brigjen Sabar Raharjo, patut dicopot dari jabatannya, karena kuat dugaan dia sudah megnetahui rencana penyerangan tersebut, tapi memilih memindahkan para tahanan ke LP agar Kopassus tidak menyerbut Mapolda DIY. Suatu tindakan yang tidak menggambarkan seorang Bhayangkara sejati.

Danrem DIY serta Pangdam Diponegoro juga patut diperiksa, karena mereka tidak menggunakan kewenangan yang dimiliki, untuk meredam kegalauan para anggota TNI pasca pembunuhan anggota Kopassus di Hugos Café. Oh iya, si Pangdam itu, pasti saat ini tengah menanggung malu sejadi-jadinya, karena sejak kasus pembantaian mencuat, secara prematur, dia mengeluarkan pernyataan tidak ada anggota TNI yang terlibat.

Kasus ini, hendaknya dijadikan pelajaran bagi siapa saja. Untuk institusi Negara seperti TNI, harus lebih ketat lagi mengawasi pergerakan prajuritnya, entah itu saat masuk ke café, atau saat melakukan aksi balas dendam dengan menenteng senjata.

Untuk polisi, agar mengedepankan penegakkan hukum, dan memberikan perlindungan maksimal terhadap para tersangka, yang masih dalam yurisdiksinya. Jangan pernah lagi mengabaikan keselamatan tahanan.

Untuk para mahasiswa dan warga Nusa Tenggara Timur di Yogyakarta, hendaknya menghindari cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan suatu masalah. Ingat, saat ini Anda sekalian berada di tanah rantau, di negeri orang. Ikutilah adat kebiasaan setempat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s