Mengenang Masa Kecil

Terkadang, saat senja hadir di ujung cakrawala, membangkitkan memori lama tentang masa kecil. Suatu fase yang memegang peranan penting sehingga membentuk pribadi saya kini.

Berbicara tentang masa kecil saya, tidak bisa dilepaskan dari situasi Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota itu, merupakan kota multietnis, multiagama, dan berbagai multi lainnya. Segala macam hal pasti bisa ditemui di sana, kecuali kereta api kali ya😀

Dalam skop yang lebih sempit lagi, saya dan keluarga, tinggal di kompleks Perumahan Nasional (Perumnas) yang sering diplesetkan perumahan belum lunas. Di kompleks perumahan itu, segala etnis dari seantero wilayah NTT bisa ditemui mulai dari Flores, Sumba, Timor, Rote, Sabu, Alor, dan Lembata serta Tionghoa. Masih ada etnis lainnya yang berasal dari luar NTT seperti Bali, Jawa, Batak, Sulawesi, Maluku dan lain sebagainya.

Soal agama, lebih komplit lagi. Di kompleks perumahan itu, ada 2 gereja, 1 masjid. Sementara rumah ibadah lain, bisa ditemui di bagian lain kota tersebut.

Seingat saya, momentum hari raya, apapun, selalu menjadi momen spesial untuk para warga di kompleks tersebut. Ambil misal perayaan Natal, anak-anak umumnya bergerombol dan menyambangi setiap rumah yang merayakannya untuk memberikan ucapan selamat.

Begitu pula kalau hari raya Idul Fitri, siapapun agamanya, pasti akan memanfaatkan untuk berkeliling memberi ucapan selamat kepada warga yang merayakannya. Benar-benar suasana yang penuh toleransi.

Karena tumbuh di lingkungan yang dinamis, multietnis, benih-benih multikultural secara tidak disadari, tumbuh dan berkembang dalam diri. Saya menjadi pribadi yang terbuka pada siapa saja, tidak memandang latar belakang etnis, atau agamanya.

Ya itulah anugerah yang saya syukuri hingga kini. Terkadang angan-angan saya berlaku nakal dan membayangkan dulu saya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang monotis. Hampir dipastikan, saya akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak terbuka pada pihak lain, bahkan, yang lebih menakutkan, bisa menjadi sangat fanatik dan terkesan memusuhi pihak lain.

Ya ya ya, mungkin ada baiknya, orang Indonesia perlu lebih berbaur lagi, sehingga bisa memahami betapa indahnya Indonesia yang beragam ini. Sepakat kawan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s