Perbaikan Citra Perantau dari Timur

Pasca peristiwa penikaman anggota Kopassus di hugos Café serta penyerbuan di LP Cebongan, Sleman sepekan silam, hampir dipastikan citra perantau asal kawasan Timur Indonesia berada di titik nadir. Anggapan miring sebagai biang kerok dari sebagian publik makin jelas terasa, mengingat selama ini, ada banyak kejadian perkelahian dan sebagainya yang melibatkan para perantau. Hal itu tidak bisa dipungkiri.

Salah seorang teman saya, Gafur Djali, yang asli Ambon, Maluku, dalam perbincangan online mengatakan perlu ada upaya pembenahan citra warga perantau dari kawasan Timur Indonesia di Yogyakarta. Salah satu caranya, bisa dengan mengeluarkan pernyataan sikap cinta damai dan sebagainya.

Belum sempat ide dari Djali tersebut saya implementasikan, tadi pagi, ada sekelompok anak muda, dari kawasan Timur Indonesia, tanpa sadar mulai menampilkan citra positif tersebut. Ceritanya begini.

Setelah mengikuti perayaan Misa Paskah di Gereja Kristus Raja, Baciro, Yogyakarta, di halaman gereja, ada sekelompok mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang membuka stan, di antara stan bazaar lainnya.  Ada yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Mereka menjual berbagai macam lukisan sketsa. Bisa pemandangan, objek tertentu seperti gedung, dan yang paling menarik, menerima lukisan sketsa wajah, dengan bayaran alakadarnya. Selidik punya selidik, ternyata , mereka berencana untuk menggelar sebuah kegiatan dan kedatangan mereka ke gereja itu dalam rangka mencari sumber pendanaan.

Penasaran dengan tawaran sketsa wajah, saya langsung menabhiskan diri sebagai konsumen perdana. Di depan saya duduk salah satu di antara mereka, yang ternyata berasal dari Manggarai Barat. Kraeng juga nih ceritanya😀

Secepat kilat, dia mulai memainkan pensil di atas selembar kertas putih berukurna A4. Ternyata lukisan sketsa wajah yang digambar secara langsung memakan waktu yang cukup lama. Saya sampai lelah duduk di depannya dan memasang tampang serius, tanpa banyak gerak, lantaran menjadi objek lukisan.

Hasilnya, lumayan menurut saya, untuk ukuran pemula seperti dia. Hanya butuh tambahan jam terbang dalam berkarya, untuk menjadi seorang pelukis professional. Sedikit kritik, garis sketsanya masih kurang lugas. Tapi tidak mengapa, intinya memang bukan pada hasil, tapi proses.

Inilah salah satu implementasi dari ide Gafur Djali teman saya itu. Perlu ada aneka kegiatan positif untuk memulihkan citra perantau dari kawasan Timur Indonesia. Dan menurut saya sebenarnya banyak kegiatan positif yang sudah dan akan dilakukan oleh para pelajar, mahasiswa dari wilayah mentair terbit di negeri ini.

Sayangnya, aneka kegiatan positif itu sering ditenggelamkan kegiatan negatif, yang saya yakin jumlahnya tetap kalah dari kegiatan positif. Karena itu, para perantau dari kawasan Timur Indonesia perlu menyiapkan konsep publikasi yang meluas dalam setiap kegiatan positif. Sudah saatnya menggandeng media massa untuk memberitakan setiap kegiatan yang memiliki nilai kemanfaatan bagi khalayak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s