Sebenarnya saya malas menulis soal ini, tapi kekesalan yang sudah menumpuk di dalam hati harus mencari penyaluran. Semua berawal dari portal berita Kompas.com yang menyajikan berita tentang penyerbuan di LP Cebongan, Sleman, DIY.

Berita itu banyak mendapatkan komentar dari pembaca. Ada beberapa komentar yang menurut saya sangat sarkastis dan menohok. Sayang, Kompas sebagai media besar di negeri ini tidak jeli sehingga komentar bernada SARA tersebut tetap mendapat tempat dalam portal tersebut. Sungguh disayangkan memang.

Beberapa komentar tersebut misalnya wilayah-wilayah di sisi sebelah Timur Indonesia merupakan penghasil preman. Ada juga pembaca yang bernama Andi, terang-terangan mengatakan preman-preman merupakan produk dari wilayah tertentu dan berlatar belakang agama tertentu.

Singkat saja komentar saya. Para pembaca yang berkomentar miring seperti itu tidak dewasa karena melihat segala sesuatu secara sempit. Namanya preman, bisa berasal dari mana saja dan berlatar belakang agama mana saja.

Orang-orang yang berpikiran sempit semacam itu, perlu memperluas pergaulan dengan seluruh warga Indonesia yang berasal dari daerah yang berbeda, agar wawasan dan pemikiran mereka tidak sempit. Inilah salah satu kegagalan Indonesia dalam membangun nation building yang bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu jua)

Advertisements