Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan dari Jakarta-Yogyakarta menumpang kereta kelas ekonomi Progo, saya berbincang-bincang dengan seorang bapak-bapak asli Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Dia menetap di Tangerang, Banten, tapi beristrikan orang Kauman, Kota Yogyakarta. Suatu kampung yang berada dalam lingkaran Kraton. Bapak tersebut bernama Abdul Wahab. Ternyata dia merupakan salah satu aktivis Universitas Gajah Mada yang turut terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi menentang modal asing medio 1974 yang berujung pada peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari alias Malari.

“Untung saat itu, saya sedang mengunjungi sanak keluarga, jadi saya tidak ikut diciduk. Teman-teman saya awalnya diajak tentara untuk makan-makan. Sesudah itu mereka dijebloskan ke penjara,” kenanya Wahab.

Sebagai mantan aktivis mahasiswa, saya melihat dia punya visi dan idealisme. Hal itu bisa saya tangkap dari ceritanya. Selepas kuliah, dia bekerja di PT Pupuk Sriwijaya. Di sana, dia melihat para petinggi perusahaan milik negara itu lihai mengutak-atik anggaran. Karena tidak betah di situ, medio 1990-an, dia mengajukan pensiun dini.

Selepas reformasi, Wahab terjun ke dunia politik dan bergabung dalam Partai Amanat Nasional. Dia menjadi saksi mata pecah kongsi antara Amien Rais dan Faisal Basri. Apa penyebabnya? Menurut Wahab, saat itu kubu Amien, yang terdiri dari banyak kader Muhammadiyah ingin agar PAN menjadi partai yang berasaskan Islam.

“Saya juga orang Muhammadiyah, tapi saya tidak setuju itu. Sejak awal kami menyetujui PAN berasaskan Iman dan Takwa. Iman dan Takwa itu kan bersifat umum dan mencakup semua umat beragama,” ujar dia.

Dia juga bercerita tentang Hatta Rajasa, Ketua PAN saat ini. Dalam setiap kabinet, Hatta selalu menjadi menteri, karena dukungan Amien Rais. Menurut Wahab, Hatta tergolong dekat hingga mau “menjilati Amien hingga ke pantatnya”.

Terkait Amien, Wahab mengatakan politikus itu tergolong licin. Akan tetapi, melihat situasi bangsa yang karut-marut seperti saat ini, Amien semestinya dimintai pertanggung jawaban karena dia tergolong tokoh yang menggelorakan reformasi kebablasan.

Itulah sepenggal kisah perbincangan saya dengan Abdul Wahab. Seorang tua, yang idealis.

Advertisements