Goresan Seusai Mengunjungi Pameran Buku

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi Pameran Buku Ikatan Penerbit Indonesia DIY di Kompleks Mandala Bhakti Wanitatama. Seingat saya, dulu setidaknya ada dua sampai tiga gedung yang dijejali stand penerbit. Tapi kali ini cuma satu gedung. Apakah ini pertanda pameran buku sudah kehilangan peminat sehingga tidak banyak penerbit yang berpartisipasi.

Bermaksud hanya jalan-jalan, saya akhirnya membeli tiga buah buku terbitan Kompas Gramedia, dengan harga murah tentunya. Ada buku legenda bulutangkis Indonesia Lim S. King yang berjudul Panggil Aku King. Ada pula dua buku Petite Historie jilid 5 dan 6, karangan Almarhum Rosihan Anwar.

Terus terang saya kaget ketika melihat dua buku dari Tjian, sapaan akrab Rosihan. Pasalnya, saya mengira hanya empat jilid semata yang dihasilkannya sebelum meninggal. Jilid pertama milik kakak saya, sementara jilid 2-4 saya beli, dan saat ini menjadi koleksi adik saya.

Kembali ke pameran buku, terkadang hati saya miris melihat halaman parkir pameran yang tidak sepadat pameran komputer yang dikunjungi ribuan warga. Ini menandakan warga Yogyakarta, entah itu pendatang sebagai pelajar atau warga asli, lebih mendewakan perangkat teknologi dibandingkan buku, yang konon katanya merupakan jendela dunia. Inilah salah satu contoh sebutan kota pelajar sudah tidak pantas lagi disematkan pada Yogyakarta

Pasalnya, kota ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kota yang dipenuhi orang-orang yang tidak mengedepankan intelektualitas sebagai hal yang utama. Yang ada hanyalah kota hura-hura, tempat orang mencari kesenangan semata.

Satu fenomena yang sudah jarang saya temui adalah spanduk promosi seminar ilmiah di kampus-kampus. Dulu, saat saya masih kuliah, spanduk semacam itu marak ditemui di tempat-tempat umum.

Saat ini spanduk smeinar ilmiah berganti spanduk tentang seminar motivator dengan iming-iming tips untuk meraup pundi-pundi rupiah. Semua orang dihipnotis untuk memiliki uang sebanyak mungkin. Seolah-olah itulah ukuran kebahagiaan di dunia ini. Pandangan yang meterialistis bukan?.

Selain spanduk seminar motivasi, juga marak spanduk even di diskotik mulai dari penampilan Disk Jockey dan sexy dancer. Kartu mahasiswa yang sejatinya merupakan salah satu tanda keintelektualisan, justru dijadikan free pass untuk mengunjungi tempat hiburan yang menggelar University Party.

Mau sampai kapan degradasi keintelektualisan di Yogyakarta, dan di Indonesia pada umumnya akan terus berlangsung? Pihak kampus juga semestinya turut bertanggung jawab karena tidak sanggup membangkitkan atmosfir intelektual di kampus seperti diskusi dan penelitian ilmiah.

Karena itu, jangan heran jika beberapa tahun ke depan, masyarakat Indonesia akan semakin apatis, dan juga individualis karena sejatinya kaum muda sudah terpenjara dalam irama itu.

3 thoughts on “Goresan Seusai Mengunjungi Pameran Buku

  1. Sungguh. Alurnya alus, sarat makna dan menggugah.
    Mungkin hanya sekedar kesamaan persepsi bahwa the world’s getting more materialist than ever tapi tulisan sampeyan menentramkan.

    Coba ktia bisa melakukan sesuatu buat negara kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s