Decky Berulah Lagi, Bunuh Anggota Kopasus

Hampir semua mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur yang tinggal di Yogyakarta medio 2002 mungkin mengetahui nama Decky Sahetapy. Pemuda keturunan Maluku yang dibesarkan di Ibukota NTT, Kupang.

Saat itu, dia merupakan aktor utama pembunuhan seorang mahasiswa asal Papua di bilangan Jalan Urip Sumoharjo atau yang biasa disebut Jalan Solo. Usai pembunuhan itu, yang notabene merupakan tindakan sekelompok orang asal NTT, hampir semua warga NTT di Kota Pelajar itu ketiban getahnya.

Kelompok warga Papua kemudian menggelar razia terhadap mahasiswa NTT. Beberapa indekos dan kontrakan yang dihuni mahasiswa asal NTT diserbu, dan penghuninya dianiaya. Decky kemudian ditangkap polisi dan menjalani hukuman penjara selama beberapa tahun.

Keluar dari penjara, dia kemudian berulah lagi dengan membunuh seorang anggota Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat, Selasa 19 Maret 2013 dini hari, di Hugos Cafe yang terletak di bilangan Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Mirip seperti kejadian pembunuhan beberapa tahun lalu, kali ini Decky dibantu beberapa rekannya, di mana salah satunya adalah Juan, pecatan polisi karena kasus narkoba dua tahun silam. Kabarnya ada empat orang yang sudah ditahan polisi.

Pasca pembunuhan itu, lagi-lagi sebagian kecil mahasiswa NTT di Yogyakarta kembali terancam. Beberapa jam setelah kejadian, beredar kabar anggota pasukan baret merah yang bermarkas di Kandang Menjangan, Sukoharjo, Jawa Tengah akan menyerbut asrama NTT yang terletak di Tegalpanggung, Yogyakarta.

Para penghuni kemudian diminta oleh aparat kepolisian agar segera mengungsi guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Suasana asrama menjadi sepi padahal biasanya selalu ramai.

Untuk lebih jelasnya, berikut saya sertakan petikan berita yang ditulis salah seorang kenalan saya. Sayang petikan berita ini tidak diterbitkan karena ditakutkan oleh pimpinannya akan mengarah pada isu SARA.

JOGJA- Tertangkapnya tiga mahasiswa asal NTT menimbulkan kekhawatiran bagi ribuan anak-anak NTT lainnya di Jogja. Selain tidak mengetahui persoalannya, mereka juga menyesalkan terjadinya penusukan tersebut.

Dari informasi yang diterima, tiga orang mahasiswa asal NTT ditangkap polisi di tiga lokasi berbeda. Mereka masing-masing berinisial, DS, B dan A. Selain ditangkap di wilayah Bintaran, satu orang ditangkap di Asrama NTT Jogja. “Ya, salah seoang memang ditangkap dini hari (kemarin) di asrama. Dia singgah jadi bukan berdiam di asrama,” jelas salah seorang penghuni asrama NTT yang dihubungi Harian Jogja, Rabu (19/3) malam.

Saat ini, sambungnya, sekitar 40 penghuni asrama NTT harus mengungsi demi kemananan dan keselamatan mereka. Mereka berpencar di sejumlah tempat. “Kami dapat perintah dari Kapolsek Danurejan sekitar pukul 10.00 WIB, untuk mengosongkan asrama sampai kondisi aman. Padahal, anak-anak di asrama NTT tidak ada hubungan sama sekali dengan kasus tersebut tetapi kena imbasnya juga,” keluhnya.

Menurutnya, kasus tersebut hendaknya tidak digeneralisir dari entitas etnis tertentu tetapi merupakan ulah oknum saja. Tetapi, ribuan mahasiswa NTT yang tidak mengetahui kasus tersebut justru terkena dampaknya. “Kami menyesalkan terjadinya kasus tersebut. Itu hanya ulah oknum. Tujuan kami di sini untuk belajar. Jadi tolong bijak dan pahami masalah ini dengan jernih,” ucap dia.

Terkait masalah tersebut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan seluruh anak-anak NTT agar tetap tenang meskipun masih ada rasa kawatir. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mereka juga meminta jaminan keselamatan kepada pihak kepolisian. “Kami ingin, ada jaminan keselamatan kami yang tidak mengerti apa-apa terkait masalah itu. Bagaimana dengan kuliah kami? Ya saya belum tahu,” tukasnya.

Dari pantauan, lokasi Asrama NTT Jogja di bilangan Tegalpanggung sangat sepi. Hanya terdengar beberapa gonggongan anjing saja dari dalam rumah itu. Bila lampu dalam ruangan dimatikan, lampu di emperan rumah dibiarkan menyala. Pagar masuk rumah juga dikunci rapat. Menurut penuturan sejumlah warga di lokasi tersebut, biasanya lokasi tersebut ramai dengan penghuninya. “Jam 11.00 WIB sampai sore ini saja masih sepi. Nggak tahu kemana perginya. Biasanya ramai,” ujar Solikin salah seorang warga disana.

Adapun penjaga salah satu sekolah yang berdekatan dengan asrama itu, M.Soleh mengakui, sekitar pukul 10.00 WIB muncul satu minibus yang berisi puluhan anggota Brimob. “Jumlahnya banyak. Mereka langsung ke asrama itu. Tapi saya nggak tahu apa ada yang diambil (ditangkap) atau tidak. Saya nggak tahu,” ujarnya ketakutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s