Aside

Teman Saya Si Anissa

Ini cerita tentag sahabat saya yang bernama Anissa. Ibu satu ini patut mendapat apresiasi karena getol mencari wadah eksistensi diri. Beruntung, dia tumbuh di lingkungan yang mendukung aktivitasnya tersebut.

Beberapa tahun silam, sewaktu berkenalan dengannya, ibu beranak 1 ini merupakan jurnalis pada sebuah surat kabar lokal grup Jawa Pos di Jogja.

Meski sudah berkeluarga, memiliki anak dan suami, dia rela membagi waktu, dan menempuh perjalanan jauh Magelag-Jogja, untuk melakukan tugas reportase.

Ceritanya, sang anak dititipkan ke mertua sebelum pergi meliput. Beberapa tahun kemudian, saya menndapat informasi dia sudah mengundurkan diri sebagai kuli tinta, setelah sebelumnya sempat bekerja di Kantor Berita Antara Biro Jawa Tengah.

“Tujuan saya resign karena ingin memfokuska perhatian pada anak saya,” ujar dia suatu ketika.

Meski demikian, dia tidak betah bertindak sebagai ibu rumah tangga murni yang hanya bisa mengurus keperluan rumah tangga.

Tangannya kembali nakal dan dia mulai menulis lagi. Buka sebagai seorang jurnalis, melainkan sebagai penulis fiksi.

Kami sering bertukar ide terkait fiksi. Tidak diragukan lagi, saya rekan diskusi yang berbobot, menurut dia. Hal yang tidak dia temukan pada sang suami yang tidak memiliki passion sama sekali di dunia kepenulisan.

Hasil diskusi kami, kemudian dia tuangkan ke dalam berbagai cerita, yang berorientasi novel.Ya, berhasil menerbitkan buku novel merupakan ambisi yang ingin dia capai.

Selain itu dia juga rajin mengikuti berbagai sayembara kepenulisan, meski hingga saat ini belum pernah ada yag berhasil dimenangkan olehya.

“Ada satu penerbit yang melakukan seleksi dari ratusan orang sampai saat ini berjumlah sekitar 20-an tapi sampai saat ini tidak ada konfirmasi siapa yang lolos ke tahap berikutnya. Padahal kalau menang,bisa dibimbing untuk terbitkan karya,” curhat Anissa belum lama ini.

Saat ini dia tengah memepesiapkan outline cerita lainya yang diperlombaka oleh Penerbit Bentang dengan deadline akhir bulan ini.

Sebagai teman saya berusaha semampu saya untuk meladeni diskusi dengan dia, agar bisa mendorong lahirnya suatu cerita yang bernas. Itulah peran saya, menjadi kompor baginya.

Semoga saja dalam sayembara kali ini, dia bisa meraih hasil yang maksimal dan cita-citanya untuk menerbitkan novel segera tercapai.

Toh kalau berhasil, nama saya ikut disebut dalam bukunya bukan? Semoga!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s