Bertandang ke Rumah Pacar

Hari ini, hari yang luar biasa. Semua berawal dari liburan sehari, lalu merencanakan untuk mengunjungi calon mertua di Klaten. Dari Jogja, naik bus Jogja-Solo, turun di pabrik gula Gondang.

Seharusnya, dari situ, menumpang ojek, atau angkutan pedesaan. tapi, berhubung sedang semangat, jalan kaki sajalah. Maklum, sudah lama kebiasaan “kere” nan menyehatkan itu tidak dilakukan.

Alhasil, jalan kaki sejauh 7 km pun saya jalani. Meski matahari bersinar cerah sekali siang tadi, sepanjang jalan, mata dihibur oleh pemandangan hijau padi di sawah. Aroma batang pada yang mulai menua benar-benar semerbak, walau tanpa terasa peluh sudah membasahi T-shirt yang saya kenakan.

Sampai di rumah, saya disambut dengan antusias. Sudah mulai merasa hommy juga di rumah itu. Hanya saja, perlu pendekatan lebih lanjut dengan para keponakan pacar🙂 Ya istilahnya, kalau mau menangkap burung, sarangnya harus dikuasai terlebih dahulu.

Setelah berbasa-basi dan menikmati menu makan siang berupa daging ayam berkuah plus tahu, waktunya tidur siang. Suatu aktivitas yang hampir tidak pernah saya lakukan karena selalu dibelit berbagai kesibukan mencari nafkah sebagai buruh tulis.

“Oom…oom, ayo berangkat,” seru calon ponakan yang lak-laki. Sebelumnya saya sudah sepakat untuk mengantarnya berlatih sepakbola di SSB Basin. Kebetulan kami sama-sama memiliki minat di dunia sepakbola, karena itu cepat akrab.

Melihat dia bermain sepakbola, jadi teringat masa kecil dulu, di Kupang. Hasrat menggiring bola begitu tinggi. Sayang, tidak ada SSB yang bisa mengayomi bakat-bakat alam itu.

Setelah kembali lagi ke rumah, makan dan mandi, serta menonton televisi, saya pun pamit pulang karena keesokan harinya harus menjalankan aktivitas seperti biasanya. Dari rumah, ke Gondang diantar calon ponakan yang perempuan, kelas 7 SMP, serta ponakan laki-laki tadi.

Sampai di Gondang, sedikit titipan uang jajan buat para ponakan tersebut. Tapi sial saat kantong dorogoh dan duit berhasil dikeluarkan, ikat rambut saya sepertinya turun meloncat keluar dari kantong, hilang di telan hari yang mulai gelap. Rambut gondrong pun terpaksa dibiarkan terurai.

Waktu enam jam sepertinya cukup membangun keakraban itu. Semoga di kemudian hari, keakraban itu makin terjalin, yang secara otomatis makin melancarkan hubungan kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s