Seputar Polemik Lurah Lenteng Agung

Akhir-akhir ini, wilayah Jakarta tengah dihebohkan dengan berita penolakan warga Kelurahan Lenteng Agung terhadap sang lurah Susan Jasmine Zulkifli yang adalah seorang perempuan dan memiliki agama yang berbeda dari mayoritas agama warga setempat.

Aksi penolakan ini mengingatkan saya akan kasus yang serupa dan terjadi di Cirebon beberapa tahun silam. Saat itu, warga mengirimkan surat ke Mabes Polri yang isinya menolak penempatan Kapolres yang juga memiliki agama yang berbeda dengan mayoritas warga di kota tersebut.

Saya pernah membaca artikel almarhum Gus Dur yang menceritakan perihal kegiatannya dalam sebuah seminar yang diselenggarkaan di luar negeri, kalau tidak salah di Australia. Dalam seminar tersebut, muncul pertanyaan dari salah satu peserta bisakalah Indonesia dipimpin oleh presiden yang bukan beragama mayoritas.

Menjawab hal itu, Gus Dur mendasarkan argumennya pada UUD 1945. Berdasarkan UUD tersebut, menurut Gus Dur siapapun, sepanjang dia merupakan warga Indonesia, terbuka kesempatan untuk menduduki jabatan tertinggi dalam garis pemerintahan.

Jawaban tersebut menunjukkan betapa kyai asal Jombang tersebut pantas dijuluki negarawan. Dia berpijak pada UUD yang digariskan para pendiri bangsa ini, menafikan identitas pribadinya, dengan embel-embel agama mayoritas, kemudian melebur dalam cita-cita bangsa yang tidak ingin ada pembedaan dalam hukum dan pemerintahan kepada seluruh warga negara.

Apa yang dikatakan Gus Dur benar adanya. Dalam urusan tata pemerintahan,serta urusan-urusan kenegaraan, semestinya kita berpegang pada hukum positif yang ada, bukan berdasarkan perasaan like or dislike, nyaman atau tidak nyaman. Hal inilah yang semestinya dipahami oleh beberapa pihak di Lenteng Agung, yang mengaku mewakili mayoritas warga di sana.

Negara ini, berdiri di atas keanekaragaman. Setiap warga memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap nusa dan bangsa. Karena itulah, setiap orang bisa ditunjuk menjadi lurah di Lenteng Agung, tanpa melihat latar belakang agama serta jenis kelamin, melainkan berdasarkan kemampuan, serta kinerja.

Alasan tidak nyaman dipimpin oleh lurah yang beragama tidak sama serta perempuan menurut saya terlampau sempit dan tidak masuk di akal serta sangat subjektif. Semestinya kinerja lurah tersebutlah yang dilihat.

Sejauh ini, pendirian Pemerintah DKI menurut saya sudah tepat. Pemerintah baru akan mencopot Susan jika dia dinilai tidak cakap memimpin, mengayomi dan meningkatkan kesejahteraan warga Kelurahan Lenteng Agung,. Jika memang demikian, maka alasan tersebut bisa diterima bahkan bisa dipertimbangkan untuk diganti dengan orang yang lebih mumpuni darinya.

Aksi penolakan ini menurut saya menjadi bukti bahwa betapa Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang tidak toleran. Orang-orang yang tidak ingin keberagaman masuk dalam tataran pemerintahan. Karena itu muncul pertanyaan, apakah pantas SBY menerima penghargaan toleransi beragama di Amerika Serikat, sementara masih ada warga yang berpandangan sempit seperti di Lenteng Agung itu?.

About these ads

3 thoughts on “Seputar Polemik Lurah Lenteng Agung

  1. gimana negara ini mau maji kl warganya masi seperti itu sifatnya..yahh semoga calon lurah lenteng agung di berikan kesabaran, kesehatan dan dilindungi Tuhan.Amin

  2. gimana negara ini mau maju kl warganya masi seperti itu sifatnya..yahh semoga calon lurah lenteng agung di berikan kesabaran, kesehatan dan dilindungi Tuhan.Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s